Prespektif Netizen Twitter Tentang Kasus Kekerasan Seksual di Indonesia Melalui Pendekatan Teori Manajemen Keselarasan Makna


 Kekerasan Seksual

Akhir-akhir ini banyak sekali kasus kekerasan seksual di Indonesia. Hal ini sebenarnya sudah lama dan kerap terjadi namun jarang mendapatkan lindungan hukum. Menurut naskah Rancangan Undang-undang tentang Penghapusan Kekerasan Seksual oleh KOMNAS Perempuan, kekerasan seksual adalah setiap perbuatan merendahkan, menghina, menyerang dan/atau tindakan lainnya, terhadap tubuh yang terkait dengan nafsu, hasrat seksual seseorang, dan/atau fungsi reproduksi, secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang. Umumnya pelaku memiliki ketimpangan kekuasaan dan kekerasan seksual dapat menimbulkan penderitaan secara fisik, psikis, dan seksual.

 

Baru-baru ini media dihebohkan dengan ramainya salah satu video pengakuan mahasiswa tingkat akhir di salah satu universitas ternama mengenai kasus dugaan pelecehan yang dialaminya.  Setelah kasus ini ternyata banyak kasus pelecehan seksual terpendam lainnya yang bermunculan di ranah kampus maupun di luar kampus. Kasus kekerasan yang paling disorot adalah kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap salah satu mahasiswi hingga meninggal dunia bunuh diri di samping makam ayahnya. Terakhir, adapun 12 santriwati yang mengalami kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh gurunya sendiri. Kasus-kasus ini menimbulkan berbagai macam reaksi netizen di twitter.  

 

Coordinated Management of Meaning (CMM)

Coordinated Management of Meaning (CMM) atau teori Manajemen Keselarasan Makna merupakan teori yang dikembangkan oleh W. Barnett Pearce dan Vernon Cronen (1980). Pearce dan Cronen menyatakan bahwa manusia berkomunikasi berlandaskan peraturan. Sehingga teori ini dapat dikatakan tentang bagaimana manusia dapat menerima pesan dan memberikan makna pada pesan tersebut serta mengelola realitas sosial. Adanya aturan di sini memiliki peran yang cukup penting dalam berkomunikasi. Aturan tidak hanya membantu individu dan individu lainnya berkomunikasi, namun juga dalam menginterpretasikan apa yang dikomunikasikan orang lain kepada individu. Orang yang berkomunikasi akan menetapkan peraturan dan pola yang akan menentukan arah atau konteks komunikasi yang dapat menuntun mereka dalam menciptakan makna dalam percakapan. Selain itu dalam teori ini bukan hanya mengenai komunikasi dan memaknainya namun juga berfokus terhadap relasi antar individu dan sekitarnya. Serta individu dinilai harus dapat melakukan koordinasi atas perbuatannya terhadap orang lain melalui proses interaksi.

 

Hierarki makna pada teori keselarasan makna

Menurut teori manajemen keselarasan makna, manusia mengorganisasikan makna dalam susunan hierarki. Hal ini dikarenakan dalam interaksi manusia tak hanya sebatas menangani pesan yang dikirimkan kepada mereka namun sama halnya juga dengan pesan yang disampaikan kepada mereka. Dengan beginilah dalam sebuah proses berkomunikasi manusia dapat memahami makna secara keseluruhan dengan tepat. Pada teori manajemen keselarasan makna terbagi menjadi enam bagian atau tingkatan yakni isi (content), tindak tutur (speech act), episode (episodes), hubungan (relationship), naskah kehidupaan (life script), dan pola budaya (cultural pattern). Semakin tinggi hierarki maka akan membantu kita untuk semakin mudah dalam menginterpretasikan yang hierarkinya lebih rendah, atau dapat dikatakan tiap tingkatan merupakan akar dari tingkatan lainya. Dari adanya susunan yang dibuat ini tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan susunan dari pihak yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh kemampuan dan tingkatan menginterpretasikan makna dari setiap orang berbeda. Berikut merupakan susunannya:

 

·      Isi, Merupakan langkah pertama saat informasi yang diterima belum diproses dan akan diubah menjadi makna 

·      Tindak tutur, merupakan hal yang dilakukan menggunakan lisan.

·      Episode, rutinitas dalam berkomunikasi yang awalan, pertengahan, dan akhirannya jelas.  Serta dapat menentukan konteks percakapan.

·      Hubungan, Merupakan tingkatan dimana pihak yang berkomunikasi akan mengetahui potensi serta batasan sebagai mitra dalam hubungan

·      Naskah kehidupan, Merupakan episode-episode dari masa lampau hingga masa kini yang akan membentuk system makna yang dapat dikelola orang lain. Pola Budaya, mengidentifikasikan diri dengan kelompok atau kebudayaan tertentu. 

·      Pola budaya, Merupakan tingkatan dimana manusia akan mendefinisikan dirinya sebagai bagian dari kelompok tertentu atau bagian dari kebudayaan tertentu.

 

Dari hasil pengumpulan data di twitter mengenai kekerasan seksual maka akan diuraikan berdasarkan hierarki makna sehingga dapat kita lihat bagaimana perspektif netizen twitter dalam melakukan upaya pemberantasan kekerasan seksual, serta pemaknaan dan tanggapannya yang terkoordinasi mengenai beberapa kasus kekerasan seksual yang sedeng terjadi akhir-akhir ini.

 

1. Isi

Pemaknaan level isi ini merupakan makna dari kata kekerasan seksual itu sendiri. Berikut merupakan beberapa tweet yang diambil mengenai tanggapan tentang kekerasan seksual yang terjadi akhir-akhir ini.


Dari Tweet diatas, maka dapat kita lihat bagaimana netizen di Twitter memaknai kata kekerasan seksual itu sendiri.

2. Tindak tutur



 

Dalam level ini dinyatakan bahwa tindak tutur merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan dengan berbagai cara seperti bertanya, memuji, menghina, menyatakan, dan lain lain. Berdasarkan konteks tindak tutur yang dihasilkan oleh beberapa tweet tadi, dapat dilihat bahwa rata-rata netizen twitter pro terhadap korban dan sangat mengecam kekerasan seksual. Konten tentang kekerasan seksual banyak banyak mendapatkan perhatian dan didukung. Hal ini dapat dilihat dari ribuan reply, retweet, dan likes pada konten atau utas kekerasan seksual.


3. Episode 



 

Dalam level ini, menurut Pearce & Cronen, ialah dimana dapat mendeskripsikan konteks ketika bertindak. Dengan kata lain, ialah dengan mencoba menginterpretasikan tindak tutur dengan melihat pengaruh dari makna. Netizen memaknai kekerasan seksual dengan mengajak pengguna twitter membahas tentang maraknya kekerasan seksual. Hal ini juga dapat dilihat dari kampanye-kampanye anti kekerasan seksual di platform twitter dan juga edukasi pengguna twitter melalui fitur space. 

 

4. Hubungan

Level ini Menurut Pearce dan Cronen hubungan ialah mengenai bagaimana menyadari potensi dan batasan dari sebuah hubungan sebagai mitra. Dapat kita lihat netizen menyebutkan beberapa stakeholders lainnya yang dianggap seharusnya terlibat dan memiliki peranan besar dalam upaya penanggulangan kekerasan seksual. Hal ini dapat dilihat dari tweet dan pertanyaan netizen twitter yang merasa kecewa dengan kepolisian, lingkungan kampus yang tidak mendukung kekerasan seksual, lembaga-lembaga pengaduan kekerasan seksual yang tidak tanggap, yang intinya lembaga-lembaga yang seharusnya ikut terlibat dalam rangkaian prosess hukum namun menyepelekan masalah kekerasan seksual.

 

5. Naskah Kehidupan 

Dalam level Naskah Kehidupan, berisi mengenai kelompok episode dari yang terdahulu hingga yang sekarang. Proses naskah kehidupan dalam konteks makna kekerasan seksual menurut netizen ialah saat viralnya mahasiswi yang speak up mengenai kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dialaminya. Dari situ, banyak orang yang mulai berani speak up tentang hal serupa. Setelah banyak yang sadar terhadap permasalahan kekerasan seksual, kampanye-kampanye anti kekerasan mulai digerakan dari mulai edukasi, pembelaan, mendesak petinggi untuk membuat undang-undang kekerasan seksual, hingga aksi nyata lainnya. Dalam level ini, merupakan penjelasan bahwa apa yang dilakukan oleh netizen sekarang ini tentang kekerasan seksual dengan konstruksi makna bahwa yang harus diperkuat adalah edukasi dan kepastian hukum, hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai kejadian sejak dulu hingga sekarang.

 

6. Pola Budaya 

Dalam level pola budaya, maka akan berhubungan dengan nilai-nilai yang biasanya berkaitan dengan jenis kelamin, ras, kelas, identitas religius, dan kategori-kategori tertentu. Dalam kasus ini, netizen cenderung kritis menanggapinya. Hal itu dapat dilihat dari pernyataan-pernyataan pro dan dukungan terhadap korban kekerasan seksual. Selain itu, netizen juga menyebarkan awareness dengan mengedukasi pengguna twitter satu sama lain. Diskusi terbuka juga kerap dilaksanakan, diskusi terbuka ini biasanya dilakukan di fitur space yang terdapat di twitter. 





Referensi: West, R., Turner, L. H. (2009). Introducing Communication Theory - Analysis and Application. Edisi ke-empat.

 

Tag: Teori Komunikasi, Manajemen Keselarasan Makna, Kekerasan Seksual, Twitter, Netizen, W. Barnett Pearce dan Vernon Cronen.

 

Disclaimer:

Penulis adalah mahasiswa semester I jurusan Hubungan Masyarakat Program Vokasi Universitas Indonesia.

 








Comments

  1. Ya, betul bgt Indonesia darurat kekerasan seksual !.

    ReplyDelete
  2. implementasinya bagus banget disertai gambar keren zev makasih😊

    ReplyDelete
  3. terharu menggunakan contoh isu sosial yang relate sekali!

    ReplyDelete
  4. terima kasih sudah mengangkat isu ini <3

    ReplyDelete
  5. ini relate banget sama masalah sekarang

    ReplyDelete
  6. sangat mengedukasi publik ttg pelecehan seksual

    ReplyDelete
  7. bagus banget untuk keadaan belakangan ini!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

MANAJEMEN KESELARASAN MAKNA