MANAJEMEN KESELARASAN MAKNA

 




Dalam berkomunikasi secara sadar ataupun tidak pada dasarnya kita terikat dengan suatu hal yang dilakukan berulang atau berpola.  Hal inilah yang pada akhirnya dianggap sebagai sebuah peraturan dalam berkomunikasi dan menginterpretasikan apa yang disampaikan. Untuk memahami hal tersebut, W. Barnett Pearce dan Vernon Cronen (1980) kemudian mengembangkan teori Coordinated Management of Meaning (CMM) atau teori Manajemen Keselarasan Makna. Pearce dan Cronen menyatakan bahwa manusia berkomunikasi berlandaskan peraturan. Sehingga teori ini dapat dikatakan tentang bagaimana manusia dapat menerima pesan dan memberikan makna pada pesan tersebut serta mengelola realitas sosial.

Adanya aturan di sini memiliki peran yang cukup penting dalam berkomunikasi. Aturan tidak hanya membantu individu dan individu lainnya berkomunikasi, namun juga dalam menginterpretasikan apa yang dikomunikasikan orang lain kepada individu. Orang yang berkomunikasi akan menetapkan peraturan dan pola yang akan menentukan arah atau konteks komunikasi yang dapat menuntun mereka dalam menciptakan makna dalam percakapan. Selain itu dalam teori ini bukan hanya mengenai komunikasi dan memaknainya namun juga berfokus terhadap relasi antar individu dan sekitarnya. Serta individu dinilai harus dapat melakukan koordinasi atas perbuatannya terhadap orang lain melalui proses interaksi.

 

 

Asumsi dalam Teori Manajemen Keselarasan Makna

1.   Manusia hidup dalam komunikasi

Kita hidup dalam komunikasi, seperti halnya Pearce (1989) mengatakan “Komunikasi adalah, dan akan selalu, menjadi lebih penting bagi manusia dari yang seharusnya.” Hal ini berkaitan dengan bagaimana manusia akan selalu terlibat dengan proses komunikasi. Teori ini sebenarnya menentang pendapat atau teori lama, dalam teori ini dipercaya bahwa situasi sosial terbentuk dari adanya interaksi dan manusia juga akan menciptakan realitas dalam percakapan yang dilakukannya. Karena setiap interaksi memiliki potensinya masing-masing untuk menjadi unik dan berbeda. Selanjutnya Pearce dan Cronen menyatakan bahwa teori komunikasi perlu dilaukukan konfigurasi ulang juga dikontekstualisasikan guna memahami perilaku manusia.

 

2.   Manusia saling menciptakan realitas sosial

Konstruksionisme sosial, merupakan sebutan dari sebuah pertnyataan dimana dikatakan bahwa manusia saling menciptakan realitas sosial dalam sebuah percakapan. Dalam berkomunikasi, manusia akan menunjukan emosinya kepada sekililingnya. Perpaduan antar manusia, emosi, serta peristiwa inilah yang akan dikontruksikan dalam proses komunikasi. Pandangan seseorang tentang bagaimana makna dan tindakan selaras dengan intrapersonalnya. Dalam sebuah percakapan, setiap pihaknya memiliki pengalaman masing-masing atas realitas sosial yang telah lampau. Maka dalam percakapan saat ini akan terbentuk sebuah realitas sosial baru dikarenakan bedanya pandangan dari setiap pihak.

 

3.   Pertukaran informasi akan bergantung pada makna pribadi dan makna intrapersonal

Menurut Donald Cushman and Gordon Whiting (1972) makna pribadi merupakan makna yang dicapai saat seseorang berinteraksi dengan orang lain dengan membawa pengalaman unik kedalam interaksi, akan sulit bagi setiap individu dalam memaknai pengalaman yang sama dengan cara yang sama pula. Makna pribadi juga akan membantu seseorang dalam mengetahui informasi tentang diri sendiri maupun orang lain. Selanjutnya merupakan makna intrapersonal, makna intrapersonal sendiri sebagai hasil dari sepakatnya dua orang atas interpretasi dalam interaksi satu sama lain. Untuk mencapai makna intrapersonal tentunya membutuhkan waktu, dilihat dari adanya isu dalam berkomunikasi juga bersifat kompleks. Makna pribadi dan makna intrapersonal ini akan dicapai dalam sebuah interaksi walaupun seringkali tidak disadari.

 

 

Hierarki dari makna yang terorganisasi

            Menurut teori manajemen keselarasan makna, manusia mengorganisasikan makna dalam susunan hierarki. Hal ini dikarenakan dalam interaksi manusia tak hanya sebatas menangani pesan yang dikirimkan kepada mereka namun sama halnya juga dengan pesan yang disampaikan kepada mereka. Dengan beginilah dalam sebuah proses berkomunikasi manusia dapat memahami makna secara keseluruhan dengan tepat. Pada teori manajemen keselarasan makna terbagi menjadi enam bagian atau tingkatan yakni isi (content), tindak tutur (speech act), episode (episodes), hubungan (relationship), naskah kehidupaan (life script), dan pola budaya (cultural pattern). Semakin tinggi hierarki maka akan membantu kita untuk semakin mudah dalam menginterpretasikan yang hierarkinya lebih rendah, atau dapat dikatakan tiap tingkatan merupakan akar dari tingkatan lainya. Dari adanya susunan yang dibuat ini tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan susunan dari pihak yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh kemampuan dan tingkatan menginterpretasikan makna dari setiap orang berbeda.



1.     Isi (content)

Merupakan langkah pertama saat informasi yang diterima belum diproses dan akan diubah menjadi makna. Dapat dikatakan juga sebagai kata atau simbol yang digunakan untuk menyampaikan pesan. Setelah itu apa yang diterima ini akan dikategorikan sesuai kontennya dan dimaknai oleh penerima pesan.

2.     Tindak tutur (speech act)

Merupakan hal yang dilakukan menggunakan lisan atau berbicara. Menurut Pearce (2007) tindak tutur merupakan hal yang cukup familiar seperti halnya janji, ancaman, menyatakan, hingga bertanya. Tindak tutur akan menyatakan tujuan atau maksud dari komunikator dan akan menunjukan bagaimana komunikasi harus dilakukan.

3.      Episode (episodes)

Episode akan mendeskripsikan konteks saat dalam sebuah tindakan, Pearce dan Cronen (1980) mengemukakan bahwa episode sendiri adalah rutinitas dalam berkomunikasi yang awalan, pertengahan, dan akhirannya jelas. Pada tingkatan ini juga kita dapat melihat konteks pada sebuah makna. Karena sebuah konten atau kata bisa saja dimaknai berbeda pada konteks yang berbeda.

4.     Hubungan (relationship)

Merupakan tingkatan dimana pihak yang berkomunikasi akan mengetahui potensi serta batasan sebagai mitra dalam hubungan. Batasan dalam hubungan pada parameter itu dibentuk bertujuan pada tindakan dan perilaku, sebagai contoh bagaimana untuk berbicara kepada satu sama lain dan apa saja hal yang dianggap tabu dalam sebuah hubungan.

5.     Naskah kehidupaan (life script)

Merupakan episode-episode dari masa lampau hingga masa kini yang akan membentuk system makna yang dapat dikelola orang lain. Seperti halnya biografi, naskah kehidupan ada sebagaimana adanya kita sekarang karena naskah kehidupan yang pernah kita jalani. 

6.     Pola budaya (cultural pattern)

Merupakan tingkatan dimana manusia akan mendefinisikan dirinya sebagai bagian dari kelompok tertentu atau bagian dari kebudayaan tertentu. Dan manusia akan berperilaku sesuai dengan nilai dari kelompok tersebut. Menurut Pearce dan Cronen (1981) pola budaya dapat didefinisikan sebagai gambaran yang sangat luas dari susunan dunia dan hubungan (seseorang) dengan susunan tersebut. Hubungan individu dengan budaya akan relevan dengan cara ketika menafsirkan makna. Tindak tutur, hubungan episode, dan naskah kehidupan semuanya dipahami dalam tingkat pola budaya.

 

Charmed And Strange Loops

Adanya pernyataan dimana semakin tinggi hierarki maka akan semakin mudah dalam menginterpretasikan yang hierarkinya lebih rendah dan tiap tingkatan merupakan akar dari tingkatan lainya, menunjukan proses yang disebut dengan “loop” Terdapat efek kontekstual yang lebih kuat bekerja dari tingkat yang lebih tinggi ke tingkat yang lebih rendah, dan adanya efek implikatif yang lebih lemah, yang bekerja sebaliknya. Ketika loop konsisten dengan hierarki, maka hal ini dapat dikatakan sebagai charmed loop. Dalam interaksi semacam ini, persepsi dan tindakan setiap orang akan membantu dalam memperkuat persepsi dan tindakan orang lain. Namun, ketika level yang lebih rendah tidak konsisten dengan level yang lebih tinggi, maka akan dikatakan sebagai strange loop. Hal ini biasanya muncul akibat komunikasi intrapersonal yang terjadi saat individu-individu sedang sibuk dengan dialog internal mereka mengenai sikap mereka yang merusak diri sendiri, atau makna yang kontradiktif.

 

Koordinasi Makna: Mengartikan Urutan

Koordinasi sendiri merupakan usaha dalam mengartikan pesan-pesan yang diberikan secara berurutan. Koordinasi juga akan timbul ketika setiap pihak yang terlibat berusaha untuk mengartikan pesan-pesan yang berurutan dalam percakapanyang ada. Menurut Pearce (2007) terdapa cara yang mudah dalam memahami koordinasi yaitu dengan mengamati orang-orang yang berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Lalu sebagai hasil dari usaha tersebut maka akan menimbulkan tiga kemungkinan dalam proses mengkoordinasikan pesan, yaitu mencapai koordinasi, tidak mencapai koordinasi, atau mencapai koordinasi namun dalam tingkat tertentu. Gerry Philipsen (1995) juga mengingatkan bahwa realitas sosial tidak sepenuhnya dikoordinasikan dengan sempurna, sehingga hasil yang paling mungkin dicapai adalah koordinasi yang dicapai sebagian.

Pengaruh Pada Proses Koordinasi

Koordinasi akan terpengaruh oleh beberapa isu, diantaranya merupakan moralitas dan sumber daya. Dalam koordinasi sendiri akan memerlukan seseorang untuk lebih peduli terhadap tingkatan moral yang lebih tinggi. Tingkatan moral ini adalah peluang bagi seseorang untuk mendefinisikan sudut pandang etis dalam interaksi. Menurut Pearce (1989) sumberdaya akan merujuk pada cerita, gambar, symbol, dan institusi yang digunakan orang untuk memaknai dunia mereka. Sumber dayapun juga termasuk persepsi, kenangan, dan konsep yang membantu orang mencapai koherensi dalam realitas sosial mereka. 

Koordinasi percakapan tentunya begitu penting untuk komunikasi. Tidak selalu dalam berkoordinasi dengan orang lain itu sederhana, kadang kala mengkoordinasikan saat berkomunikasi menjadi hal yang menantang . Orang membawa sumber daya yang berbeda ke dalam percakapan dapat memicu individu untuk menanggapi orang lain berdasarkan cara manajemen makna mereka sendiri. Selain sumber daya, koordinasipun bergantung pada aturan yang diikuti oleh para komunikator. 

Aturan dan Pola Berulang yang Tidak Diinginkan

Dalam mengkoordinasikan makna seseorang akan menggunakan aturan tertentu, dengan aturan ini akan memberikan kesempata pada seseorang dalam memilih alternatif percakapan. Setelah aturan ditetapkan dalampercakapan, para pelaku akan memiliki kerangka yang cukup umum untuk melakukan komunikasi. Penggunaaan aturan dalam percakapan lebih dari sekedar kemampuan untuk menggunakan aturan. Hal ini juga membutuhkan “kemampuan fleksibel yang tidak dapat disederhanakan menjadi sebuah teknik belaka” (Cronen, 1995). 

Menurut Cronen, Pearce, dan Linda Snavely (1979), pola berulang yang tidak diingkan (unwanted repetitive patterns–URPs) merupakan episode konflik berurutan dan terjadi berulang kali yang seringkali tidak diinginkan terjadi oleh individu yang terlibat dalam konflik. Pola ini dapat timbul akibat dua orang yang memiliki dua sistem aturan berbeda yang mengikuti suatu struktur yang mengharuskan mereka untuk menjalankan perilaku tertentu tanpa mempedulikan konsekuensi apa yang akan muncul. Pola ini terjadi pada dua orang akibat pihak dalam percakapan tidak melihat adanya pilihan lain. Atau adanya perasaan nyaman dengan konflik yang terus berulang di antara mereka. Mereka sudah mengenal diri satu sama yang lain dan mengetahui gaya komunikasi masing-masing dalam konflik. 






Referensi: West, R., Turner, L. H. (2009). Introducing Communication Theory - Analysis and Application. Edisi ke-empat.

 

Tag: Teori Komunikasi, Manajemen Keselarasan Makna, Percakapan, W. Barnett Pearce dan Vernon Cronen.

 

Disclaimer:

Penulis adalah mahasiswa semester I jurusan Hubungan Masyarakat Program Vokasi Universitas Indonesia.

 








Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Prespektif Netizen Twitter Tentang Kasus Kekerasan Seksual di Indonesia Melalui Pendekatan Teori Manajemen Keselarasan Makna